Kamis, 09 Mei 2013

cerita inspiratif permen



Permen

Suatu hari ada seorang ibu membawa anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun untuk menghadiri  sebuah pesta ulang tahun temannya;  pestanya berlangsung sangat meriah;  namun si orang ibu ini terus mengkomplain anaknya yang katanya tidak berani tampil dan pemalu.

Setiap diadakan perlombaan selalu ia mendorong-dorong anaknya untuk ikutan; namun sianak tetap saja enggan untuk ikut.  Kalapun terpaksa ikut anak ini kerap kali selalu kalah atau berada pada urutan terakhir dari perlombaan.



Si ibu yang penuh ambisi ini sepertinya merasa kecewa dengan tingkah laku anaknya yang demikian.  Lalu dia menceritakan betapa hebatnya ia waktu masih seusia anaknya dulu.  Ia bercerita bahwa dulu dirinya selalu berani mengikuti lomba; ia juga selalu menang dalam setiap perlombaan.   Dia terus saja bercerita; dan terus membandingkan kehebatan dirinya dengan anaknya.

Sampai akhirnya pestapun usai;  pada saat hendak pulang tiba-tiba si tuan rumah menghampirinya….Hallo sayang.... terima kasih ya telah hadir diacara kami.... oh iya.... ini sebelum pulang kamu boleh ambil permen ini ayo silahkan ambil; ambilah dengan kedua tanganmu agar kamu dapat banyak.  Namun si anak diam saja sambil menatap pemen itu.  Si orang tua mulai gusar dan meminta anaknya untuk mengambil permen dengan kedua tangannya;  namun kembali si anak tetap diam sambil menatap permen-permen itu.  Sampai akhirnya si tuan rumah mengambilkan permen itu dengan tangannya sendiri.

Sesampainya dirumah siorang tua kecewa dan mengeluh sambil mengomel; dia berkata begini;  Dasar kamu ini ya...., Cuma diminta ambil permen saja kok ya tidak berani;  mau jadi apa kamu nanti;   namun diluar dugaannya anaknya tiba-tiba menjawab;  aku bukan tidak berani mengambil mami tapi aku ingin mendapatkan permannya lebih banyak;  tangankukan kecil sedangkan tangan Tante tadikan jauh lebih besar; jadi aku tunggu saja biar dia yang mengambilkan untukku.

Begitulah kita para orang tua sering kali menghakimi anak kita dengan asumsi dan presepsi-presepsi kita yang sering kali sangat dangkal, padahal dibalik semua prilaku anak kita sering kali terdapat alasan yang luar biasa hebat dan kritisnya yang terkadang membuat kita berdecak kagum;  Kok bisa ya anak sekecil ini berpikir sekritis itu......

Mari kita berhenti untuk menghakimi anak-anak kita...; melainkan tanyalah mengapa mereka melakukan ini atau melakukan itu.... kelak anda akan dibuat terkagum-kagum oleh jawaban si kecil anda...
http://forum.dudung.net/Themes/default/images/ip.gifTercatat
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216)


 Mengasah Kapak

Di suatu waktu adalah seorang pemotong kayu yang sangat kuat. Dia melamar sebuah pekerjaan ke seorang pedagang kayu dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat bagus.Karenanya, sang pemotong kayu memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberinya sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya.

Hari pertama
Sang pemotong kayu berhasil merobohkan 18 batang pohon.
Sang majikan sangat terkesan dan mengatakan,
Selamat & kerjakanlah seperti itu!

Hari kedua
Ia sangat termotivasi oleh pujian majikannya dan bekerja lebih giat lagi.
Sang pemotong kayu hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon.

Hari ketiga
Ia bekerja lebih keras lagi
Tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon.

Hari-hari berikutnya batang pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedkit.
Aku mungkin telah kehilangan kekuataku pikir pemotong kayu.
Dia menemui majikannya dan meminta maaf sambil mengatakan tidak mengerti
Kapan saat terakhir anda mengasah kapak ? tanya sang majikan
Mengasah ? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk untuk mengapak pohon. jawab pemotong kayu

Catatan :

Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali, kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. Pada istilah sekarang, setiap orang lebih sibuk dari sebelumnya tetapi lebih tidak berbahagia dari sebelumnya.
Mengapa ? Munginkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam ?
Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi , menyediakan waktu untuk membaca, dsb.
Kita semua membutuhkan waktu untuk relaks , untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan tumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi, mulailah dari sekarang untuk memikirkan cara bekerja yang lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar