Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

contoh paragraf persuasi dan paragraf argumentasi



Paragraph persuasi

Kita semua mengetahui bahawa kondisi lingkungan Kota Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Banyak sekali sungai yang kotor akibat pembuangan limbah yang tidak teratur serta pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor yang semakin banyak. Ini semua dapat menyebabkan gangguan bagi makhluk hidup di Kota Jakarta, temasuk manusia. Pernapasan kita dapat terganggu dan keindahan Kota Jakarta tercemar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita sebagai penduduk Kota Jakarta berusaha untuk melestarikan lingkungan kota ini dengan berbagai macam usaha. Di antaranya adalah dengan penghijauan, pembuatan taman kota, dan pelarangan membuang sampah di sembarang tempat. Ini semua dapat mengendalikan keindahan Kota Jakarta.

Paragraph argumentasi

Mempertahankan kesuburan tanah merupakan syarat mutlak bagi tiap-tiap usaha pertanian. Selama tanaman dalam proses menghasilkan, kesuburan tanah ini akan berkurang. Padahal kesuburan tanah wajib diperbaiki kembali dengan pemupukan dan penggunaan tanah itu sebaik-baiknya. Teladan terbaik tentang cara menggunakan tanah dan menjaga kesuburannya dapat kita peroleh pada hutan yang belum digarap petani.

ringkasan, unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen robohnya surau kami



ROBOHNYA SURAU KAMI
RINGKASAN :
Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.
Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok.
Kehidupan orang ini hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.
Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau yang kerap disapa Kakek itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya.
Ajo Sidi bercerita sebuah kisah tentang Haji saleh. Haji saleh adalah orang yang rajin beribadah menyembah Tuhan. Ia begitu yakin ia akan masuk ke surga. Namun Tuhan Maha Tau dan Maha Adil, Haji Saleh yang begitu rajin beribadah di masukan ke dalamma neraka. Kesalahan terbesarnya adalah ia terlalu mementingkan dirinya sendiri. Ia takut masuk neraka, karena itu ia bersembahyang. Tapi ia melupakan kehidupan kaumnya, melupakan kehidupan anak isterinya, sehingga mereka kocar-kacir selamanya. Ia terlalu egoistis. Padahal di dunia ini kita berkaum, bersaudara semuanya, tapi ia tidak memperdulikan itu sedikit pun. Crita ini yang membuat kakek tersindir dan merasa dirinya murung.
Kakek  memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau membuat rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.
Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.

UNSUR INTRINSIK :

Tema            :Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya.
Amanat        : 1) jangan cepat marah kalau diejek orang,
2) jangan cepat bangga kalau berbuat baik,
3) jangan terpesona oleh gelar dan nama besar,
4) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan
5) jangan egois.
Latar
-Latar Tempat 
kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya
-Latar Waktu
            Beberapa tahun yang lalu.

Alur (plot)
Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin.

Penokohan
Tokoh-tokoh penting dalam cerpen ini ada empat orang, yaitu tokoh Aku, Ajo Sidi, Kakek, dan Haji Soleh

(a) Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain.
(b) Ajo Sidi adalah orang yang suka membual
(c) Kakek adalah orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain.
(d) Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri. 

Sudut Pandang
Di dalam cerpen ini pengarang memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku.

Gaya bahasa
Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. Gaya bahasanya sulit di pahami, gaya bahasanya menarik dan pemilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagaman.


UNSUR EKSTRINSIK :

·    Nilai sosial
Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.
·    Nilai Moral :
Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.
·    Nilai Agama :
Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
·    Nilai Pendidkan :
Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
·    Nilai Adat :
Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai- nilai dalam masyarakat.

HAL-HAL YANG MENARIK
(1)   Surau tidak difungsikan, anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain berbagai macam kesukaan, dan perempuan sering mencopoti papan atau lantai di malam hari untuk dijadikan kayu bakar. Bersikap masa bodoh dan tidak memelihara sebagai mana mestinya,
(2)  Bualan Ajo Sidi tentang kejadian di neraka membuat si kakek akhirnya muram dan akhirnya bunuh diri.
(3)   Seorang laki-laki menikah dan hanya mengabdikan hidupnya sepanjang hari di surau tanpa memikirkan hidup duniawi harta ataupun kekayaan, dan melalaikan tugasnya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
(4)   Taat beribadah saja, membiarkan negara kacau balau, melarat, hasil bumi dikuasai negara lain tanpa memikirkan kehidupan anak cucu, pemalas dan  tidak mau bekerja,
(5)   Melakukan perbuatan sesat dengan cara bunuh diri,
(6)   Ajo Sidi tidak ikut melayat orang yang meninggal akibat bualannya, hanya berpesan agar dibelikan kain kafan 7 lapis sedangkan dai tetap pergi bekerja.

cerpen




Betapa realita, hanya sebuah derita yang fana.

~ga tau siapa yang bilang

------^^-------

“Psst,psst,bangunlah kau.” Dinginnya pagi masih menusuk raga.
Seseorang dalam mimpi berbisik membuat anak manusia terjaga.

“ Bletaak!!”

Terasa sebuah getaran yang memekakkan telinga. Kedua mata anak itu terbuka, sadar, tubuhnya tergeletak di lantai bawah ranjang dengan air liur membentuk pulau kalimantan di bantalnya.

Jam 5.30, terlambat.
Kamar masih gelap dengan deru kipas angin membuat tubuhnya makin lekat ke lantai.

“Jeplak!!” seketika lampu kamar menyala.
“Tong, bangun! Ga dapat sarapan jangan nangis ya.”
“Mmmm,,iya mi!”

Apakah sarapannya mi instan? Ataukah mi itu di gotong? Tentu tidak. Mi itu mami, panggilan untuk ibunya. Tong itu panggilan sang anak, nama aslinya sih Ketong Alamsyah. Hari jumat ini pun dimulai.

Jam 6.55, makin terlambat. Sepotong roti di mulut ketong dihabiskan di atas motor.

“Bwngt mm, angmlangkom!”
“Ngomong apa si Tong, berangkat dah sono.” Mami bingung.

Mulut Ketong masih penuh dengan roti. Gas motornya terasa hampa, dari kejauhan mami melambai. Melepas anaknya ke dunia yang keras, sekolah.

Jam 7.15, benar-benar terlambat.
Jumat ini jalanan padat dengan kecoa besi yang merayap. Di depan gerbang sekolah, si mamang, mr. Satpam sudah berteriak dari jauh.

“Tong, lo rumah deket pake motor masih aja telat. Cepet masuk!”

Ketong hanya mengkerlingkan mata. Bukan karena naksir si mamang tetapi karena dia pakai helm. Parkir motor penuh, satu tempat tersisa di antara dua buah motor sport mahal.

“Duh. Tong malu kenapa, motor saban dua ratus meter mogok aja di jogrog disitu.”

Sekali lagi ketong hanya mengkerlingkan mata sambil mengambil kartu parkir dari si mamang.

“(sialan…)” Gerutu ketong dalam hati.
Beruntung, guru keseniannya belum masuk.

“Huuaaah!” rasa kantuk tiada berujung.

Yang ketong lihat hanya bibir bu Sari yang kelihatan berkoar seraya menekan tuts keyboard. Segelas kopi dan selembar roti akan memusnahkan serangan kantuk. Sayangnya tidak ada yang dapat menahan godaan Morpheus, sang dewa mimpi. Tanpa sadar, Ketong siap membentuk peta buta di mejanya.

Kimia…

“Ya silahkan PR-nya dikumpulin di depan.” Bu Tini berteriak di depan bagai memerintahkan bala tentaranya.
“Tidaaaaak, gua belum bikin PR bu Tini!!” Ketong terperanjat dengan rasa takut seorang penjahat yang akan dicambuk oleh algojo.

Kemampuan menulis kilat ketong akhirnya dapat di andalkan, walaupun tulisannya seperti tulisan suku klobebah (?). Tepat sebelum diperiksa, PR ketong telah selesai. Akhirnya..

Jam 11.00, sebagian anak telah menuju masjid untuk salat jumat. Ketong berjalan perlahan-lahan ke kantin. Tak disangka dan dikira.

“Woi,temen-temen! Si ketong dateng!!” Seseorang anak berteriak bagai seruan perang kepada amerika.

Seketika kantin kosong. Yang tersisa hanya 1 meja dengan 1 orang anak. Dari jauh terlihat wajahnya yang hitam sangar seperti pembunuh berdarah dingin, hidung kempas-kempis, telinga naik turun,lidah melet-melet. Saat sudah dekat, Ketong tersadar orang itu adalah temannya.

Description: http://i992.photobucket.com/albums/af47/buluy/getrod.jpg
Eroy Alexander ototo, nengok dipanggil belut. Tapi takut dikira melecehkan binatang panggil aja eroy.

“Eh Tong pa kabar? Sini duduk, lagi makan nih. Pesen aja.”
Sapa Eroy sambil menggeser makanannya menjauh dari Ketong.

“Ga bakal minta, tenang aja!”
“Kan biasanya….”

Pembicaraan 2 orang itu berlanjut.
Mulai dari topik yang wajar seperti:”pelajaran apa tadi.”
Topik tingkat tinggi seperti: “Menurut lo kinerja gubernur Jakarta gimana.”
Topik tidak penting contohnya: “Awan ko putih ya.”
Sampai yang tidak patut dicontoh “bocorin ban mobil kepsek yuk.”

Jam 12.00, salat jumat segera dimulai, 2 orang aneh itu sadar mereka terlambat.

“Tidaaaaaaak!”
mereka teriak berhadapan dan sadar mereka belum sikat gigi.
Mereka segara berangkat meninggalkan kantin dengan kecepatan penuh.

Pintu sekolah sudah ditutup. Dan 2 orang ini akan membuat keputusan yang akan mereka sesali.

“Tong mau salat dimana?”
“Kalau di bawah penuh. Di sana aja tempat waktu itu ke rumah Afid.”
“Ni udah telat nyong!”
“Weits, Jangan sebut gua babang ketong kalo ga tau jalan pintas. Lewat sini!”

Mereka masuk ke sebuah gang kecil. Ketong mulai merasa ada yang aneh.
“(Kok udah diaspal ya..)” Tambah aneh lagi ketika melihat kebun yang biasa dilalui menjadi perumahan. Tapi mereka masih tenang. Jiwa petualang mereka masih berkobar.

“Lewat sini tu jalannya.” Ketong yakin hingga dia menemukan jalan itu hanya sekumpulan pohon dan jurang penuh sampah.

“Lo gua boongin mau aja, bukan disini, hehehe.” Padahal Ketong mulai gelisah.

Eroy terus mengikuti ketong yang sebenarnya sudah tidak tahu mau kemana. Mereka terus berjalan hingga menemukan sebuah pintu.

“Nah Roy,tinggal masuk pintu itu langsung masjid deh.” Eroy hanya mengangguk.

Apakah yang mereka temukan di balik pintu itu?

“Tong,ini apaan?” Mata Eroy terbelalak.

Di depan mereka tampak rumah tua dikelilingi kebon singkong. Dari dalam rumah itu sayup-sayup terdengar suara tawa tanpa wujud. Dua orang aneh itu saling berhadapan dengan wajah pucat. Pantang mundur, mereka mengeluarkan jurus terbaik mereka, langkah seribu.

“Tong katanya elu tau. Ni malah muter-muter. Panggil peta !” Eroy panik.
“Santai aja, kalau kita mau berusaha pasti ada jalan, maka dari itu semua mari kita bersodaqoh.” Ketong mulai step.
“Oke gua rasa gua tau jalannya,lewat sini.” Eroy ambil alih pimpinan sekarang.

Mereka ambil jalan memutar jauh ke bagian lain dari jurang yang tadi. Perumahan itu belum berpenghuni. Terlihat seperti kota hantu. Kota hantu dengan dua orang bodoh.

Apa yang mereka lihat. Sebuah jalan kayu kecil dengan sekumpulan orang bersenjatakan palu,pacul,dan gergaji. Sekali lagi mereka membuat keputusan dengan otak yang laju berpikirnya terhambat karena putus asa.

“Jangan lewat sini terlalu berbahaya saudara Eroy. Kita susun rencana.”

Eroy yang sudah hilang kewarasan hanya manggut-manggut. Dengan rumus matematika yang tak pernah ada, Ketong membuat perhitungan.

“Kita di posisi X, Integralkan lalu selesaikan dengan persamaan linear parsial ekuivalen. Tarik garis lurus, maka kita akan sampai ke……………….rumah tua yang tadi.”

“Tunggu apa lagi, cepat!!” Eroy kehilangan akal sehatnya.

Description: http://i992.photobucket.com/albums/af47/buluy/hahu.jpg
Sampai di rumah tua. Rumah itu tampak makin mencekam. Awan hitam berkumpul diatasnya. Angin bertiup kencang meniupkan bau kotoran ayam.


“Tong, kemana lagi. Gua takut, gua belum kawin soalnya.”
“Pssst...Lo nyium ini, bau ayam!! Hore!! Bau ayam, bau ayam, bau ayam!!!” Ketong jingrak-jingkrak ga karuan.

“Duh dia jadi gila plus P.A gini lagi.” Eroy bingung.
“Lo ga sadar ya, kita selamat. Lo liat itu…sama itu, kita selamat! Bau ayaaaaaam!!”

Ketong menunjuk ke arah kandang ayam di bawah dan kubah masjid. Eroy pun mendapat pencerahan dari kejeniusan ketong.

“Lo betul, kita selamat… Bau ayam, bau ayam!! Berhasil, berhasil!” Eroy ikutan.

Mereka lari kesana dan terdiam. Kandang ayam itu 2 meter ke bawah. Dengan perhitungan cermat dan akurat, Ketong bertindak.

“Gussraak!” Eroy berguling jatuh karena didorong oleh Ketong. Eroy langsung berdiri.
“Oh aman.” Ketong langsung turun dengan perlahan dan selamat.

“Tong, lo apaan si! Kalo gua kenapa-kenapa gimana?? Emak gua belum liat gua jadi sarjana.” Eroy ngedumel.

Sekarang bagaimana cara keluar dari sana. Mereka jalan memutar dari kandang ayam dan menemukan sebuah…

“Jurang!!” Teriak mereka berdua.

Tanpa pikir panjang, Ketong mendorong Eroy lagi untuk memastikan itu aman atau tidak. Aman, Ketong langsung turun dan naik ke sisi lain.

“Lo emang temen gua yang paling baik Roy.” Ketong tanpa muka bersalah.
“TMT ni namanya,temen makan temen!” Eroy habis kesabaran.

Namun Eroy melihat sesuatu yang membuatnya menitikkan air matanya.

“Tong, liat itu!” Eroy menunjuk sesuatu.

“Apaan? Pohon nangka?” Kepala Ketong yang sudah berasap jadi rada lamban, matanya mulai jereng.

“Itu rumah Afid!!” Eroy teriak penuh haru.

Kedua sejoli itupun berlari dengan mata berkaca-kaca, hidung berdarah, telinga bernanah. (walah). Di ujung sebuah gang terlihat seberkas cahaya terang, masjid.

“Ga nyangka gua bakal seseneng ini ngeliat masjid.” Kata Eroy.

Sampai disana qomat telah berkumandang, jamaat telah siap untuk salat. Ketong dan Eroy langsung ke tempat wudhu dan mencari tempat ke dalam masjid. Tak pernah mereka salat sekhusyuk dan sehikmat ini sampai-sampai menitikkan air mata. Terbayang perjuangan mereka yang dramatis dan mengharukan sekaligus aneh dan bodoh.

Setelah mereka selesai, mereka berdoa dalam hati.

“(Ya Tuhan, biarkan aku mengingatmu di setiap waktuku. Jangan biarkan aku menunda salatku. Dan jangan engkau pertemukan aku dengan si belut Eroy ini lagi.)”
Ketong berdoa dengan air mata di pipinya.

Di sisi lain Eroy berdoa.
“(Sama, jangan engkau sandingkan aku dengan begundal ketong lagi ya Tuhan.)”

Hari inipun berakhir dan mereka hidup bahagia selamanya…
Description: http://i992.photobucket.com/albums/af47/buluy/getrok.jpg

kata pengantar



KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berisikan cerpen berdasarkan pengalaman pribadi dengan judul “PETUALANGAN YANG TAK TERLUPAKAN”.
Pembuatan cerpen yang kemudian di bukukan dalam makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran Bahasa Indnesia di SMA Negeri 90 Jakarta.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,  mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :
  1. Drs. Matalih selaku kepala SMA Negeri 90 Jakarta
  2. Ibu Hj.Derniwati sitompul,S.pd dan Bapak Marapi selaku Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pkiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini
  3. Rekan-rekan semua di Kelas X-9 SMA Negeri 90 Jakarta
  4. Secara khusus saya menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada saya, dalam menyelesaikan makalah ini
  5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Jakarta, 20 April 2012


…………………………………….. 
(penulis)
(Anita Silvia)