Minggu, 16 Juni 2013

kehamilan (Gestasi)

Gestasi (Kehamilan) dan Persalinan


Gestasi (Kehamilan)
Kehamilan adalah proses berkembangnya embrio di dalam uterus setelah terjadinya fertilisasi (pembuahan). Setelah pembuahan, sel akan berkembang/ membelah dari 2,4,8 dan seterusnya hingga menjadi morula. Morula berkembang menjadi blastula. Blastula ini kemudian akan menempel pada dinding endometrium yang biasa disebut dengan istilah implantasi. Setelah implantasi inilah masuk dalam proses kehamilan. Pada saat terjadi implantasi, embrio akan merangsang kelenjar-kelenjar dalam dinding uterus untuk memproduksi hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin). Hormon ini berfungsi merangsang corpus luteum untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut akan menyebabkan dinding uterus tetap tebal yang berguna sebagai implantasi dan memelihara janin. Pada awal kehamilan, kadar HCG dari dalam darah ibu sangat tinggi sehingga sebagian di antaranya diekskresikan bersama urine. Adanya HCG di dalam urine dapat dipakai sebagai indikator dalam uji kehamilan. 
Adanya hormon estrogen menghambat kelenjar hipofisis mengeluarkan FSH dan LH, sehingga ovarium tidak memproduksi sel telur lagi. Itu sebabnya kenapa orang yang sedang hamil tidak mengalami menstruasi. Progesteron dan estrogen juga mendorong tumbuh dan berkembangnya kelenjar susu untuk menghasilkan ASI. Progesteron juga mencegah uterus untuk berkontraksi selama kehamilan sebelum mencapai waktu kelahiran.
Proses kehamilan pada manusia berlangsung kurang lebih 38 minggu terhitung sejak saat terjadi fertilisasi. Secara umum proses kehamilan dibagi menjadi 3 trimester yaitu trimester pertama, trimester kedua dan trimester ketiga.
Pada trimester pertama, blastula akan berkembang menjadi 3 lapisan, yaitu lapisan endoderm (lapisan dalam), lapisan mesoderm (lapisan tengah) dan lapisan ektoderm (lapisan luar). Proses terbentuknya ketiga lapisan ini dinamakan Gastrulasi.  Setelah gastrulasi dilanjutkan dengan proses organogenesis (pembentukan organ-organ tubuh). Pembentukan organ tersebut berasal dari ketiga lapisan yang dihasilkan pada saat proses gastrulasi. Lapisan endoderm akan membentuk organ-organ pernapasan dan pencernaan. Lapisan mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limfa, dan organ reproduksi. Lapisan Ektoderm akan membentuk sisem saraf, kulit, mata, hidung danlapisan epidermis. Blastula yang telah mengalami organogenesis ini yang dikenal dengan sebutan embrio (Janin).
Untuk mempertahankan embrio maka terbentuk yang namanya membrane ektraembrionik. Membran ekstraembrionik berfungsi sebagai  pelindung embrio dari berbagai tekanan yang  berasal dari luar. Selain itu, membran ini juga  berfungsi  memberi makanan bagi embrio. Membran ekstraembrionik terdiri dari kantung  kuning telur, amnion, korion, dan alantois. Simak gambar berikut ini.
1.    Kantung kuning telur (Sakus vitelinus)
Terletak di antara amnion dan plasenta, merupakan tempat pemunculan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah yang pertama. Oleh karena itu, pada tahapan selanjutnya kantung ini berhubungan dengan tali pusar.
2.    Amnion
Amnion merupakan selaput yang menghasilkan getah berupa air ketuban yang berguna untuk menjaga embrio tetap basah dan tahan goncangan. Selain itu, amnion juga berperan dalam proses pengaturan suhu tubuh embrio.
3.    Korion
Korion memiliki bagian yang berbentuk jonjot–jonjot atau  vili korion. Fungsi vili korion adalah sebagai tempat masuk dan keluarnya makanan dan oksigen dari ibu ke embrio. Korion adalah cikal bakal  plasenta. Plasenta berfungsi sebagai pemberi nutrisi makanan bersama darah bagi perkembangan dan pertumbuhan embrio.
4.    Alantois
Alantois merupakan membran yang membentuk tali pusar atau ari-ari. Adanya tali pusar menjadikan plasenta pada lapisan endometrium terhubung dengan embrio. Bagi embrio, alantois dapat menyalurkan berbagai nutrisi dan oksigen dari ibu lewat pembuluh darah. Sebaliknya, alantois juga berguna sebagai saluran pengeluaran sisa metabolisme embrio.
Pada trimester kedua, embrio tumbuh secara cepat dan aktif mencapai ukuran sekitar 30 cm. Embrio atau janin akan aktif bergerak pada trimester kedua ini. Pada periode ini, hormon HCG akan stabil dan plasenta akan menyekresikan sendiri progesteron untuk menjaga kehamilan.
Pada trimester ketiga, janin akan tumbuh mencapai berat sekitar 3–3,5 kg dan panjang sekitar 50 cm. Pada periode ini, perut ibu akan kelihatan sangat membesar.
Persalinan
Setelah embrio tumbuh dan berkembang menjadi bayi yang sempurna, proses dilanjutkan dengan persalinan. Persalinan atau kelahiran terjadi akibat serangkaian kontraksi uterus yang kuat dan berirama. Prosesnya terjadi dalam tiga tahap.
Tahap pertama, dimulai dengan pembukaan dan pemipihan serviks (leher rahim), kemudian dilanjutkan dengan dilatasi sempurna.
Tahap kedua, yakni ekspulsi atau pengeluaran bayi. Adanya kontraksi yang kuat dan terus-menerus mengakibatkan bayi mulai turun dari uterus menuju vagina.
Tahap ketiga adalah keluarnya bayi yang berplasenta. Plasenta bayi ini akan dipotong dan dijepit sehingga menjadi pusar.
Ada beberapa hormon yang berperan pada proses kelahiran bayi. Hormon tersebut meliputi hormon relaksin, estrogen, prostaglandin, dan oksitosinHormon relaksin diproduksi oleh korpus luteum dan plasenta. Fungsi hormon ini adalah melunakkan serviks dan melonggarkan tulang panggul saat terjadi kelahiran.  Hormon estrogen dihasilkan oleh plasenta dengan fungsi menurunkan jumlah hormon progesteron sehingga kontraksi dinding rahim bisa berlangsung. Hormon prostaglandin dihasilkan oleh membran ekstraembrionik dengan fungsi meningkatkan kontraksi dinding rahim. Sedangkan hormon oksitosin dihasilkan oleh kelenjar hipoļ¬sis ibu dan janin. Fungsinya juga meningkatkan kontraksi dinding rahim.
Pada satu hari sampai 3 hari pasca lahir, hormon progesteron menghilang, karena plasenta sudah tidak ada. Hal ini merangsang produksi hormon prolaktin dari hipofise bagian depan. Prolaktin merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar